Kupang, nwartapedia.com – Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) sebagai langkah strategis dalam memperkuat layanan kesehatan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pendaftaran angkatan perdana yang dibuka sejak 8 Juni 2026 tersebut menghadirkan dua program studi spesialis, yakni Obstetrik dan Ginekologi (Obgyn) serta Anestesiologi dan Terapi Intensif. Kehadiran PPDS di Undana menjadi tonggak penting dalam upaya memenuhi kebutuhan dokter spesialis di wilayah kepulauan yang selama ini masih mengalami keterbatasan tenaga medis.
Dekan FKKH Undana, Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi, menjelaskan bahwa pembukaan PPDS merupakan tindak lanjut kebijakan pemerintah dalam mempercepat penyediaan dokter spesialis di daerah, khususnya kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Melalui program ini, Undana diharapkan menjadi pusat penghasil tenaga medis spesialis yang siap mengabdi di seluruh wilayah NTT.
Kebutuhan dokter spesialis di NTT dinilai sangat mendesak karena distribusi tenaga kesehatan yang belum merata.
Sebagian besar dokter spesialis masih terkonsentrasi di Kota Kupang, sementara sejumlah kabupaten hanya memiliki satu dokter spesialis yang harus melayani seluruh kebutuhan masyarakat.
Ketua Dewan Penasihat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) NTT menyebut kondisi tersebut berpotensi mengganggu pelayanan kesehatan apabila dokter yang bertugas berhalangan.
Hal serupa juga terjadi pada layanan anestesi yang menjadi penunjang utama operasional kamar bedah di rumah sakit daerah.
Untuk menjaga kualitas lulusan, FKKH Undana menerapkan kuota penerimaan yang terbatas. Program Spesialis Obstetrik dan Ginekologi menerima empat peserta setiap semester, sedangkan Program Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif menerima tiga peserta setiap semester atau enam peserta setiap tahun.
Proses seleksi dilakukan secara bertahap melalui pendaftaran daring, seleksi administrasi, Tes Potensi Akademik (TPA), psikotes, tes tertulis, hingga wawancara.
Sistem seleksi tersebut dirancang untuk menghasilkan calon dokter spesialis yang kompeten dan berintegritas.
Selain itu, Undana juga mengupayakan berbagai skema pembiayaan bagi peserta didik melalui peluang beasiswa LPDP maupun kerja sama dengan pemerintah kabupaten di NTT agar dokter daerah dapat melanjutkan pendidikan spesialis dan kembali mengabdi di daerah asal setelah lulus.
Di sisi lain, pihak universitas mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai praktik percaloan dalam proses penerimaan mahasiswa baru PPDS. Seluruh proses seleksi dilakukan secara murni melalui sistem resmi tanpa melibatkan pihak ketiga.
“Undana tidak melibatkan siapa pun atau institusi mana pun dalam seleksi mahasiswa baru. Semua melalui jalur resmi. Proses pembayaran juga langsung disetorkan secara transparan ke rekening resmi Undana,” tegas Dr. Christina.
Melalui penyelenggaraan Program Pendidikan Dokter Spesialis ini, Undana menargetkan lahirnya puluhan dokter spesialis berkualitas yang mampu memperkuat pelayanan kesehatan di Nusa Tenggara Timur.
Kehadiran mereka diharapkan dapat mengurangi kesenjangan akses layanan medis sekaligus menjawab kebutuhan tenaga spesialis di berbagai daerah, khususnya wilayah kepulauan dan pelosok NTT. **
